By : Muhammad Fendi Sugiharto
Bagi para lelaki, wanita adalah makhluk ciptaan allah yang tercipta untuk dilindungi oleh para kaum adam, keindahan alami yang dimiliki dan yang pada umumnya memang wanita tidaklah terlalu kuat jika dibandingkan dengan para kaum laki-laki. Bagiku sendiri wanita itu ibaratkan sebuah perhiasan yang berharga dan benar-benar harus di jaga dan dirawat. tapi itu hanya pendapat awal saja, ketika aku mengingat seorang yang selalu duduk bersimpuh dan menyebutkan nama orang-orang yang ia sayangi dalam setiap do'anya di hadapan allah, aku menjadi berubah fikiran. Dia lah ibuku yang telah merubah paradigma berfikirku. Biarpun dia adalah seorang wanita (dengan tanpa mengabaikan peran seorang ayah) tapi beliaulah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Beliaulah manusia yang menjaga ku di siang dan malamku disaat aku tak berdaya dan belum bisa melakukan apapun. Dia jugalah yang menyiapkan sarapanku, mengantar jemput sekolah saat aku masih kecil, dialah yang merangkulku disaat aku menangis, merawat bapaku, dan kami para anak-anaknya di saat sakit dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dan bahkan dalam semua hal mungkin aku bapaku dan kakak juga adiku jikalau tanpa hadirnya sesosok seorang ibu mungkin kami tak bisa bertahan sampai sejauh ini, dan aku tak terbayangkan akan seperti apa aku tanpa beliau.
Ibuku bernama Sumini Rahayu, Lahir di jombang 16 Juni 1966 beliau lahir dari keluarga yang kurang mampu, sejak kecil dia sudah hidup dalam keprihatinan, betapa tidak ibu kecilku dahulu tinggal bersama neneku dan kakeku juga kedelapan saudaranya. Dalam keadaan perekonomian yang selevel kelas bawah dan jumlah keluarga yang begitu besar tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat hidup dengan kata cukup, bahkan untuk mengisi perut saja dapat sehari satu kali saja sudah bersyukur, Ibu kecilku tinggal di sebuah rumah berdinding cerkak, beratapkan gabah kering dan berlantaikan tanah yang di tinggikan, aku sendiri pernah tinggal disana 6 bulan lamanya dan aku masih ingat betapa sempitnya rumah itu jika mereka bersepuluh. Tetapi ibuku mengaku tidak pernah sedikitpun merasa menyesal bahkan ibuku sangat merindukan masa-masa saat berkumpul kakek dan neneku dan saudara-saudaranya.
Ibuku hanyalah tamatan Sekolah Dasar di SDN II Cangkring Randu - Jombang yang juga merupakan tempat aku dahulu memulai Study ku di level Sekolah Dasar, Sedangkan Bapaku hanyalah tamatan SMP. Itulah mengapa ibuku sangat bersyukur begitupun aku, karena aku dan kakaku pernah merasakan bangku kuliah, hanya saja aku telah menyelesaikan studyku di Diploma III sedangkan kakaku tidak menuntaskan kuliahnya dan hanya sampai pada semester ketiga. Namun walau begitu beliau sudah sangat senang dan tak pernah berhenti bersyukur hanya karena melihat anaknya sudah melebihi pendidikan ibu dan bapaku. Hingga kini kehidupan ibuku belum juga dalam keaadaan yang cukup, kami hanyalah sebuah keluarga yang sederhana, dan moment sempurna kebahagianya hanyalah ketika kami dapat berkumpul bersama satu keluarga dan berbagi cerita satu sama lainya, walau tidak lagi sepuas dahulu, tapi waktu yang hanya sedikit kami luangkan untuk berkumpul itu sangat membuatnya bahagia. Ibuku adalah orang yang paling sabar yang pernah aku temui, ibuku memang bukan orang berkecukupan, tapi ketulusan dan jiwa besarnya untuk membangun keluarga yang harmonis itulah yang membuat aku merasa kaya dan bersyukur bahwa aku tidak terlahir dari rahim wanita lain.
Belakangan ketika aku melihat anak pertama kakaku yang baru lahir berkulit yang merah mungil dan lucu, aku sering bertanya pada ibuku, "seperti apakah kami anak-anakmu dahulu? apakah aku nakal? apakah aku merepotkanmu? apakah aku pernah membuatmu menangis? apa engkau pernah merasa bangga pada kami? dan apakah engkau pernah menyesal melahirkan kami?" Ibuku justru tersenyum sembari menceritakan betapa nakal dan merepotkanya saat aku masih kecil, ibuku bercerita tanpa ada rasa menyesal membersarkan aku walau hingga kini aku belum bisa memberikan apapun untuk bisa membuat ibuku tersenyum. baginya kebahagian anak-anaknya adalah yang nomor satu.
Bagiku ibu adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa, dia yang menjaga dan merawat keluarganya tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kami, dia adalah superheroku yang sudah melahirkan aku yang bangun di tengah malam disaat aku menangis, yang mendidiku dengan baik, dialah yang memarahi aku disaat aku bersalah. beliau pula yang mengenalkan aku dengan islam, beliau yang rela malu mencari pinjaman hanya untuk membayar biaya sekolah anaknya yang tanpa ia sadari hutangnya sudah bertumpuk, dan selalu berkata baik-baik saja pada anaknya. Ibuuuu... ibuu... haaeh, dia tak pernah mengeluhkan masalahnya padaku, dia hanya bertanya bagaimana aku, bagaimana kami, hubungan kami, apakah masih baik-baik saja. Haaaeh,,, Ibuuuu... Dialah sahabatku dimana aku hanya datang disaat aku berkeluh kesah disaat membutuhkanya saja, dan dialah orang yang selalu ada di saat aku membutuhkanya dissaat-saat terakhir, beliaulah yang selalu menelfonku dan menghawatirkan aku, beliaulah orang yang sering berbohong disaat aku lapar tanpa memperdulikan bahwa dia juga lapar dia membiarkan anaknya makan terlebih dahulu, dia yang bangun pagi diasaat kami masih terlelap dan bahkan tak jarang aku gondok karna ibuku telat menghidangkan masakan, beliau adalah segalanya definisinya tiada batas, dialah segalanya orang yang hanya mendambakan anaknya merdeka di masa depan kelak, dan perjuangan ku yang hingga saat ini tak sedikitpun luput dari setiap doa setulus hati seorang ibu, semoga suatu saat kelak aku bisa membuat segores kerutan senyum diwajahnya dan semoga kelak beliau di beri kesempatan untuk dapat melihat cucunya tumbuh dan merasakan hasil dari perjuangan anak-anaknya.
Ibu maafkanlah aku yang sampai saat ini belum bisa membuatmu bahagia, sesungguhnya aku tak pernah bosan mendengar nasihatmu, aku hanya ingin mendengar cerita bahagia yang kau alami dalam hari-harimu, aku hanya ingin engkau tidak terlalu memperdulikan dan menomor satukan anakmu yang sudah besar ini lagi, sehingga engkau mengabaikan kesehatanmu. karena aku juga tak bisa jika melihat ibu di rundung gelisah dan menahan keinginanya.
Ibuuu... Aku tak bisa menulis sebagus buya hamka, aku tak pandai merangkai kata-kata indah seindah kalimat-kalimat mario teguh, tapi dalam kesempatan ini ingin kupersembahkan tulisan ini untuk ibuku tercinta, sebagai ungkapan rasa kagumku padamu, sebagai ungkapan dariku betapa aku sangat mencintaimu, menyayangimu dan sangat merindukanmu. Ibuuuuuu... kaulah kartini di hatiku. kaulah superheroku, kaulah motivatorku, inspirasiku, dan segalanya yang istimewa adalah tentang ibu. Semoga semangat juangnya yang tak kenal kata lelah demi anak dan keluarganya dapat aku teruskan, dan kutularkan untuk generasi keturunanku, juga para pembaca.
Selamat hari kartini ibu, tetaplah menjadi wanita yang kubanggakan.
Ibuku bernama Sumini Rahayu, Lahir di jombang 16 Juni 1966 beliau lahir dari keluarga yang kurang mampu, sejak kecil dia sudah hidup dalam keprihatinan, betapa tidak ibu kecilku dahulu tinggal bersama neneku dan kakeku juga kedelapan saudaranya. Dalam keadaan perekonomian yang selevel kelas bawah dan jumlah keluarga yang begitu besar tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat hidup dengan kata cukup, bahkan untuk mengisi perut saja dapat sehari satu kali saja sudah bersyukur, Ibu kecilku tinggal di sebuah rumah berdinding cerkak, beratapkan gabah kering dan berlantaikan tanah yang di tinggikan, aku sendiri pernah tinggal disana 6 bulan lamanya dan aku masih ingat betapa sempitnya rumah itu jika mereka bersepuluh. Tetapi ibuku mengaku tidak pernah sedikitpun merasa menyesal bahkan ibuku sangat merindukan masa-masa saat berkumpul kakek dan neneku dan saudara-saudaranya.
Ibuku hanyalah tamatan Sekolah Dasar di SDN II Cangkring Randu - Jombang yang juga merupakan tempat aku dahulu memulai Study ku di level Sekolah Dasar, Sedangkan Bapaku hanyalah tamatan SMP. Itulah mengapa ibuku sangat bersyukur begitupun aku, karena aku dan kakaku pernah merasakan bangku kuliah, hanya saja aku telah menyelesaikan studyku di Diploma III sedangkan kakaku tidak menuntaskan kuliahnya dan hanya sampai pada semester ketiga. Namun walau begitu beliau sudah sangat senang dan tak pernah berhenti bersyukur hanya karena melihat anaknya sudah melebihi pendidikan ibu dan bapaku. Hingga kini kehidupan ibuku belum juga dalam keaadaan yang cukup, kami hanyalah sebuah keluarga yang sederhana, dan moment sempurna kebahagianya hanyalah ketika kami dapat berkumpul bersama satu keluarga dan berbagi cerita satu sama lainya, walau tidak lagi sepuas dahulu, tapi waktu yang hanya sedikit kami luangkan untuk berkumpul itu sangat membuatnya bahagia. Ibuku adalah orang yang paling sabar yang pernah aku temui, ibuku memang bukan orang berkecukupan, tapi ketulusan dan jiwa besarnya untuk membangun keluarga yang harmonis itulah yang membuat aku merasa kaya dan bersyukur bahwa aku tidak terlahir dari rahim wanita lain.
Belakangan ketika aku melihat anak pertama kakaku yang baru lahir berkulit yang merah mungil dan lucu, aku sering bertanya pada ibuku, "seperti apakah kami anak-anakmu dahulu? apakah aku nakal? apakah aku merepotkanmu? apakah aku pernah membuatmu menangis? apa engkau pernah merasa bangga pada kami? dan apakah engkau pernah menyesal melahirkan kami?" Ibuku justru tersenyum sembari menceritakan betapa nakal dan merepotkanya saat aku masih kecil, ibuku bercerita tanpa ada rasa menyesal membersarkan aku walau hingga kini aku belum bisa memberikan apapun untuk bisa membuat ibuku tersenyum. baginya kebahagian anak-anaknya adalah yang nomor satu.
Bagiku ibu adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa, dia yang menjaga dan merawat keluarganya tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kami, dia adalah superheroku yang sudah melahirkan aku yang bangun di tengah malam disaat aku menangis, yang mendidiku dengan baik, dialah yang memarahi aku disaat aku bersalah. beliau pula yang mengenalkan aku dengan islam, beliau yang rela malu mencari pinjaman hanya untuk membayar biaya sekolah anaknya yang tanpa ia sadari hutangnya sudah bertumpuk, dan selalu berkata baik-baik saja pada anaknya. Ibuuuu... ibuu... haaeh, dia tak pernah mengeluhkan masalahnya padaku, dia hanya bertanya bagaimana aku, bagaimana kami, hubungan kami, apakah masih baik-baik saja. Haaaeh,,, Ibuuuu... Dialah sahabatku dimana aku hanya datang disaat aku berkeluh kesah disaat membutuhkanya saja, dan dialah orang yang selalu ada di saat aku membutuhkanya dissaat-saat terakhir, beliaulah yang selalu menelfonku dan menghawatirkan aku, beliaulah orang yang sering berbohong disaat aku lapar tanpa memperdulikan bahwa dia juga lapar dia membiarkan anaknya makan terlebih dahulu, dia yang bangun pagi diasaat kami masih terlelap dan bahkan tak jarang aku gondok karna ibuku telat menghidangkan masakan, beliau adalah segalanya definisinya tiada batas, dialah segalanya orang yang hanya mendambakan anaknya merdeka di masa depan kelak, dan perjuangan ku yang hingga saat ini tak sedikitpun luput dari setiap doa setulus hati seorang ibu, semoga suatu saat kelak aku bisa membuat segores kerutan senyum diwajahnya dan semoga kelak beliau di beri kesempatan untuk dapat melihat cucunya tumbuh dan merasakan hasil dari perjuangan anak-anaknya.
Ibu maafkanlah aku yang sampai saat ini belum bisa membuatmu bahagia, sesungguhnya aku tak pernah bosan mendengar nasihatmu, aku hanya ingin mendengar cerita bahagia yang kau alami dalam hari-harimu, aku hanya ingin engkau tidak terlalu memperdulikan dan menomor satukan anakmu yang sudah besar ini lagi, sehingga engkau mengabaikan kesehatanmu. karena aku juga tak bisa jika melihat ibu di rundung gelisah dan menahan keinginanya.
Ibuuu... Aku tak bisa menulis sebagus buya hamka, aku tak pandai merangkai kata-kata indah seindah kalimat-kalimat mario teguh, tapi dalam kesempatan ini ingin kupersembahkan tulisan ini untuk ibuku tercinta, sebagai ungkapan rasa kagumku padamu, sebagai ungkapan dariku betapa aku sangat mencintaimu, menyayangimu dan sangat merindukanmu. Ibuuuuuu... kaulah kartini di hatiku. kaulah superheroku, kaulah motivatorku, inspirasiku, dan segalanya yang istimewa adalah tentang ibu. Semoga semangat juangnya yang tak kenal kata lelah demi anak dan keluarganya dapat aku teruskan, dan kutularkan untuk generasi keturunanku, juga para pembaca.
Selamat hari kartini ibu, tetaplah menjadi wanita yang kubanggakan.
Simpang Sollah-Tanah Putih, 17 April 2016, 03;26;10 WIB
Tema : Kisah Inspiratif seorang wanita
Tema : Kisah Inspiratif seorang wanita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar